fbpx
Agar Tak Boncos, Pahami Ini Saat Investasi Reksadana

Agar Tak Boncos, Pahami Ini Saat Investasi Reksadana

Kemajuan teknologi telah memudahkan banyak orang untuk memasuki dunia investasi reksadana. Seiring berjalannya waktu, jumlah manajer investasi telah berkembang menjadi puluhan.

Nah sebelum salah pilih, simak dulu tips investasi reksadana yang dibagikan KulikMedia di bawah ini.

1. Memahami profil risiko

Saat pertama kali ingin berinvestasi, sebaiknya investor terlebih dahulu menentukan profil risikonya masing-masing. Jika investor sudah mengetahui seluk beluk dunia investasi maka akan cenderung memiliki risiko yang tinggi (agresif).

Di sisi lain, jika investor adalah seorang pemula dan belum memahami dunia investasi, maka alokasi investasinya moderat.

Profil risiko harus disesuaikan. Hal ini menjadi kunci untuk membangun portofolio.

2. Tetapkan tujuan/jangka waktu investasi

Setelah memahami profil risiko investasi, investor dapat menetapkan tujuan investasi jangka pendek, jangka menengah atau jangka panjang. Misalnya, anda mengalokasikan 50 persen dana investasi ke reksadana.

Untuk tujuan jangka panjang, anda juga memiliki 10 persen saham. Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan jangka menengah, anda mengalokasikan 20 persen di SBN (Surat Berharga Negara) ritel. Untuk kebutuhan jangka pendek, anda menempatkan 20 persen dana ke reksadana pasar uang.

Baca Juga :  4 Rahasia Investasi Cryptocurency yang Aman dan Cuan

3. Instrumen investasi yang tepat

Reksadana saham dan saham merupakan alat investasi yang berisiko tinggi sehingga sebaiknya dipegang untuk tujuan jangka panjang.

Di sisi lain, SBN ritel dapat memudahkan dalam mengelola dana investasi lump sum atau menyetor dana dalam jumlah besar di awal investasi.  SBN Ritel merupakan instrumen investasi yang berisiko rendah karena dikeluarkan oleh pemerintah.

Reksadana pasar uang juga merupakan instrumen investasi berisiko rendah. Reksadana pasar uang menyimpan dana dalam bentuk deposito, Sertifikat Bank Indonesia (SBI) atau Surat Perbendaharaan Negara (SPN) yang merupakan SBN dengan jangka waktu kurang dari satu tahun.

Di sisi lain, contoh instrumen investasi berisiko moderat adalah surat utang (obligasi dan sukuk) dan reksadana yang memiliki aset surat utang, yaitu reksadana pendapatan tetap.

4. Evaluasi

Setelah menentukan profil risiko dan memahami tujuan investasi, penting juga bagi investor untuk melakukan evaluasi.

Saat memutuskan untuk membeli instrumen investasi, investor harus membaca dan menggali informasi mengenai aset tersebut. Alasan evaluasi penting adalah untuk menyelaraskan kembali dengan kebutuhan likuiditas.

Baca Juga :  Bibit, Salah Satu Aplikasi Reksadana Terbaik Indonesia

Penting juga bagi investor untuk keli ketika mendapatkan saran investasi. Jangan sampai investor mendapatkan saran investasi yang tidak tepat.